Sabtu, 28 Oktober 2023

AKSI NYATA- PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

  

  

AKSI NYATA_TOPIK 1 

Oleh: Ifma Putri Wulandari (250211105054)


1. Mulai dari Diri  

Sebelum menempuh mata kuliah perspektif sosiokultur, yang saya pikirkan tentang topik ini yaitu tentang bagaimana menilai dan menyikapi adanya perbedaan sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pendidikan di indonesia yang nantinya bisa saya terapkan dalam pembelajaran di kelas.  Saya mencoba memahami apa saja tujuan dari topik ini agar dapat memahami bagaimana gambaran mata kuliah literasi dalam lintas mata pelajaran yang bisa diterapkan dalam pembelajaran  karena saya belum memiliki gambaran bagaimana topik ini dapat diterapkan dalam konteks pendidikan. Namun setelah saya mempelajari sedikit materi tentang perspektif sosial-kultural ini, saya menyadari bahwa perspektif sosial-kultural memiliki dampak positif pada dunia pendidikan. Sebagai calon seorang pendidik yang profesional saya siap menghadapi berbagai permasalahan sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang mungkin timbul selama proses pembelajaran dan mempersiapka diri untuk merancang pembelajaran yang berpihak pada peserta didik  

 

2. Eksplorasi Konsep 

A. Dari melihat kasus Diera, seorang siswa yang merasa tersisihkan hanya karena merasa berbeda, saya jadi memahami pentingnya mempelajari tentang faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik yang mempengaruhi pendidikan dan pembelajaran agar kita sebagai guru dapat memahami dengan baik masing-masing karakter siswa dan mengetahui sikap bijak apa yang harus diterapkan oleh guru untuk menanggapi masalah tersebut

 

B. Saya belajar tentang perjalanan pendidikan Indonesia pada masa Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan.. Sebelum kemerdekaan, terdapat kesenjangan sosial dalam hal kebebasan pendidikan, sehingga hanya orang-orang dari latar belakang tertentu yang dapat memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum bangsawan.. Selama ini penduduk pribumi hanya diperbolehkan belajar membaca, menulis, dan berhitung bila diperlukan, dan ini hanya untuk kepentingan Belanda. Hingga Ki Hajar Dewantara mendirikan Sekolah Taman Siswa Yogyakarta yang menjadi pintu gerbang kemandirian pendidikan Indonesia. Namun pada masa pendidikan Jepang juga memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia, yaitu kebebasan menerima pendidikan dari kalangan manapun. Namun di balik semua itu ada niat tersembunyi bahwa Indonesia memanfaatkan Jepang untuk mencari dukungan demi kepentingan perang di Asia Timur Raya.

 

3. Ruang Kolaborasi

Pada ruang kolaborasi umum, saya mengetahui bahwa faktor sosial, budaya, ekonomi, politik dan kondisi mendasar di berbagai daerah berbeda-beda, seperti yang terlihat dalam video, dimana secara keseluruhan terdapat kesamaan antar daerah, antara lain kurangnya keseragaman infrastruktur dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan dan   berasal dari latar belakang ekonomi kelas menengah ke bawah. Melalui ruang kolaboratif, saya juga mendapatkan semangat baru untuk meningkatkan pendidikan   dan termotivasi oleh para pendidik yang mengajar dengan ikhlas dan sangat bersemangat mengabdi di negara.

4. Demonstrasi Kontekstual

Pelajaran yang bisa saya ambil dari belajar bab ini bersama dengan rekan-rekan saya adalah pada kedalaman kontekstual yaitu berdiskusi tentang keterkaitan faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam proses belajar yang ada di berbagai daerah. Sehingga dapat memberikan solusi terkait permasalahan yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran serta dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan menyesuaikan dengan karakter peserta didik. 

5. Elaborasi Pemahaman

Hal yang berubah dari pemahaman awal tentang topik ini yaitu saya menjadi mengerti bahwa tidak hanya faktor sosial dan ekonomi saja yang berpengaruh terhadap pendidikan, tetapi juga terdapat faktor budaya, politik, serta geografis. Sebagai calon guru harus dapat memperhatikan perbedaan karakteristik siswa agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan optimal. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut yaitu bagaimana strategi yang digunakan guru dalam menyusun pembelajaran tidak mengubah perbedaan latar belakang peserta didik. 

Perubahan yang terjadi pada pemahaman tentang topik ini adalah saya memahami bahwa bukan hanya faktor ekonomi dan sosial   yang mempengaruhi pendidikan, tetapi juga   faktor budaya, politik, dan geografis. Sebagai calon guru harus mampu memperhatikan perbedaan karakteristik siswa agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan maksimal yang ingin saya pelajari lebih lanjut adalah bagaimana strategi yang digunakan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran dengan tidak mengabaikan perbedaan latar belakang siswa.

6. Koneksi antar Materi

Keterkaitan antar materi yang saya dapat dari mempelajari perspektif sosiokultural ini adalah bahwasannya materi-materi tersebut saling berkaitan satu sama lain yang mana setiap materi satu dengan yang lainnya saling memperkuat dan terhubung, seperti yang dapat dilihat dari materi mengenai perjalanan pendidikan indonesia dari sebelum kemerdekaan hingga kemerdekaan terkait dengan mata kuliah filosofi pendidikan Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara, memahami karakter peserta didik, paradigma pembelajaran baru serta yang berorientasi pada peserta didik, pemahaman peserta didik, asesmen yang efektif, serta literasi yang digunakan dalam proses pembelajaran. 

7. Aksi Nyata

Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan setelah mempelajari mata kuliah ini terutama dalam penerapannya di lapangan karena manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan saya sebagai calon guru, yaitu memberikan pemahaman faktor sosial,ekonomi, politik, terkait budaya yang lebih mendalam yang mempengaruhi pendidikan, sehingga dengan topik belajar ini dapat menjadi bekal saya untuk beradaptasi di lingkungan pendidikan mengingat bahwa siswa terdiri dari berbagai latar belakang sehingga dapat menyusun proses pembelajaran yang menyesuaikan. Dari Skala 1-10 saya berada di Skala 7, karena untuk saat ini yang saya pahami masih sedikit dan belum mengetahui kondisi di lapangan dan cara penerapannya.